Kopi Hitam Tengah Malam : ANALOGI IDENTITAS

shutterstock_213904084Beberapa orang bilang aku tidak beruntung seperti yang lainnya. Oleh karena itu, ketika aku mengharapkan sesuatu, mereka selalu memintaku mengingat lagi dan lagi, mengenai siapakah aku, dari mana, dan apakah aku pantas mendapatkan sesuatu yang kuharapkan tersebut.

Perlakuan tersebut membuatku terkadang tak ingin berharap sesuatu apapun pada mereka. Aku menyimpannya, dalam kebisuan, kenihilan suara yang ganjil, namun membahayakan hatiku, karena aku tahu suatu saat itu akan meledak, dan aku melihat potensi kekecewaan mereka atas apa yang telah aku lakukan.

Hingga keberanian itu datang. Menembus ulu hati, memancar, mengisi setiap ruang dalam kepalaku, memuai, memulai, memicu sesuatu yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Hingga pada saatnya tiba, aku memutuskan sendiri, siapa aku sebenarnya, mengambil peran bukan sebagai seseorang yang harus berpikir siapa, darimana, sehingga apakah aku pantas. Karena aku yakin aku pantas mendapatkan dunia, yang Tuhan ciptakan untukku dan untuk mereka. Sampai titik kesadaran ini merenggut realitas yang memuakkan itu…

Ijinkan aku memperkenalkan diri.

Aku adalah keberanian. Ibuku adalah tujuan. Ayahku adalah tantangan. Saudaraku adalah informasi dan ilmu pengetahuan. Sahabatku adalah komunikasi. Motivasiku adalah kontradiksi. Dan musuhku adalah rasa takut.

Aku hidup bersama mereka,

Dimana Ibuku adalah tujuan, yang memberiku hasrat untuk terus berlari dan bertahan, dia selalu menunggu satu tanganku meraih tangannya, dan tangan yang lain terkepal keatas.

Ayahku adalah tantangan, yang membuat segala bentuk tujuan menjadi lebih menyenangkan, membesarkanku dengan percobaan kegagalan, agar aku bisa menjadi lebih baik.

Saudaraku adalah ilmu pengetahuan, dimana dia selalu menginformasikan segala hal yang perlu aku lakukan dan aku ketahui, untuk melewati tantangan, untuk menggapai tangan Ibu, untuk mencapai tujuan.

Sahabatku adalah komunikasi, bersamanya aku menegosiasikan strategi. Melihat, mengukur, memperhitungkan segala potensi agar aku bisa meraih tangan Ibu.

Motivasiku adalah kontradiksi, dimana bentuk kontradiksi tersebut adalah ketidak mampuanku untuk memenuhi segala hal yang ingin kucapai, dan segala hal yang aku yakin bisa ku gapai. Benturan antara hasrat dan realitas.

Musuhku adalah rasa takut, yang juga berperan dengan sangat baik, mengingatkanku, membuatku waspada akan jurang-jurang keterpurukan. Dari musuh, aku belajar untuk tidak ceroboh, dan mampu mengendalikan.

Bersama merekalah, aku dibesarkan. Karena jika realitas tidak mendukung, aku yakin aku harus membuat realitas tandingan.

Advertisements

2 thoughts on “Kopi Hitam Tengah Malam : ANALOGI IDENTITAS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s