Saat ‘Nama Baik’ Lebih Penting Dari Kebaikan

ilustrasi-minuman-beralkoholKita, manusia, terkadang melupakan kebaikan. Terkadang kita menjaga sebuah ‘nama baik’ dengan melakukan sesuatu yang tidak baik. Banyak hal yang kurang  baik diperbuat suatu golongan, institusi pendidikan, bahkan keluarga untuk menjaga nama baik.

Penjagaan nama baik suatu golongan, partai, misalnya. Para petinggi bisa menyingkirkan siapa saja yang mencoreng nama baik partai. Institusi pendidikan misalnya bisa dengan mudah mengeluarkan siswa karena siswa tersebut di interogasi polisi karena tawuran. Keluarga misalnya, mengabaikan anak yang telah terlibat criminal, bahkan seorang ayah mampu berkata “Kau bukan lagi anak kami”.

Jika ada kecenderungan seperti itu, sepertinya kita memang tidak diperbolehkan melakukan suatu tindakan yang fatal: mencoreng nama baik. Hingga anak-anak atau siapapun menanggung beban nama baik, yang sebenarnya konsepnya tidak dapat diterima oleh mereka (anak-anak)

Sebut saja Tessa, tokoh fiktif dalam film berjudul ‘The Constant Gardener’, yang diperkosa sebelum dia dibunuh, lalu dimutilasi, karena dia membahayakan sebuah perusahaan bidang farmasi yang melakukan tes obat bernama Dypraxa (obat untuk penyakit TBC). Masalahnya obat tersebut belum disempurnakan, dan warga Afrika harus menjadi kelinci percobaan mereka. Cerita tersebut terinspirasi dari kisah nyata awal tahun 2000-an.

Atau yang lebih konkrit lagi, adalah Munir. Sebenarnya aku tidak ingin membahas luka masa lalu negeri ini. Disingkirkan karena merusak nama baik seseorang atau institusi. Bukti bahwa cara kerja dunia adalah ‘nama baik diatas kebaikan’.

Atau seorang siswa yang terlibat tawuran, atau mabuk-mabukan, mereka dikeluarkan dari sekolah karena akan mencemarkan nama baik sekolah tersebut. Ini terjadi pada temanku sendiri saat aku masih berada dibangku SMA. Sebut saja Tyo, adalah seorang siswa yang dibesarkan oleh orang tua asuh yang kurang dari berkecukupan. Dia bergaul dengan orang-orang diatas usianya, memberikan pekerjaan paruh waktu di bengkel. Kebiasaan orang-orang ini, mungkin adalah mabuk-mabukan. Tyo, yang merasa diselamatkan oleh orang-orang ini, terpengaruh. Hingga dia berada dalam keadaan teler saat guru agama mengajar dikelas, dan melemparnya dengan penghapus papan tulis terbuat dari kayu, tepat mengenai kepala Tyo, lalu terjadi pertengkaran.

Sampai saat itu, Tyo hanya di beri peringatan (skors). Pada kasus kedua kalinya, lebih parah lagi, Tyo membawa minuman beralkohol ke kelas. Tentu saja tidak secara frontal, namun minuman beralkohol tersebut dimasukannya kedalam tempat air minum biasa. Minuman tersebut berwarna seperti teh, hingga guru agama menyadari, bahwa itu bukan air teh. Tyo yang malang, segera dikeluarkan dari kelas, dan dari sekolah.

Mungkin sebagian dari kita berkata bahwa dia pantas menerima perlakuan seperti itu. Anak nakal, susah diatur, pembangkang. Kita tidak tahu cara meluruskan Tyo. Atau, tidak mau tahu. Aturannya sudah jelas. Dilarang membawa minuman beralkohol kedalam lingkungan sekolah. Apabila dilanggar, terima konsekwensinya. Tanpa ada konsolidasi, tanpa ada pendekatan yang lazim, tanpa ada niat baik untuk meluruskan Tyo. Yang ada hanya…jika Tyo melakukan hal yang lebih buruk, dan masyarakat tahu, dia akan membawa nama buruk atas tindakan buruknya. Sekolah lupa, bahwasannya sekolah harus mendidik yang tidak terdidik. Memberi jalan kebenaran bagi anak-anak dengan tindakan menyimpang. Inilah system yang berkuasa. Anak-anak diharapkan sudah menjadi ‘baik’ saat dia berada disekolah. Bukan dituntun menjadi seseorang yang baik. Begitulah nama baik berada diatas kebaikan.

Aku sendiri mengenal Tyo. Sebelum dia jatuh ke lingkungan beralkohol, dia adalah siswa yang kritis, sekalipun malas mengerjakan tugas, tapi dia tidak bodoh. Dia selalu mempertanyakan sesuatu. Sedikit tidak peduli terhadap pelajaran IPA, tapi dia membaca sejarah dengan rajinnya. Hanya saja teman-teman sekelas, termasuk aku, tidak menyadari penderitaannya yang sulit mendapatkan uang jajan, bahkan sulit untuk membeli buku-buku mata pelajaran. Dia berbakat dibidang musik. Aku bilang wajahnya yang ganteng pasti akan sedikit membuatnya cepat melejit di bidang permusikan, atau kesenian. Namun, sekolah tidak mengijinkan Tyo untuk berkembang dilingkungannya, hanya karena penyimpangan-penyimpangan yang dianggap melebihi batas toleransi.

Setelah Tyo pergi, aku bisa mudah lupa. Hingga tahun-tahun berlalu, aku menjadi mahasiswa dan aktif di bidang perlindungan anak, akhirnya terkuak lagi kenangan soal Tyo. Terlebih ketika kesadaran akan ketimpangan system merajalela setiap sudut pandang yang aku punya.

Berkecimpung di dunia perlindungan anak, aku memahami pengelompokan situasi-situasi yang kerap kali dialami anak saat ini. Misalnya, pengelompokan anak-anak yang beresiko terhadap konflik hukum, atau anak-anak yang memang sudah berkonflik dengan hukum. Pengelompokan itu menuntut treatmen yang berbeda.

Hal yang terjadi pada Tyo, bukanlah tindakan kriminal. Tyo hanyalah anak nakal. Kenakalan Tyo, memang berpotensi menjerumuskan dia terhadap perilaku kriminal. Disinilah institusi pendidikan, masyarakat, teman, keluarga, harus berperan mendukung Tyo, membantu dia menemukan jalannya kembali agar dia tidak terjerumus dalam dunia kriminal, bukannya di tendang.

Anak-anak wajar membuat kesalahan. Banyak factor yang menjadi penyebab. Kehidupan mereka masih panjang. Sangat baik bagi kita untuk memberi anak-anak ini sebuah kesempatan, sekalipun mereka telah melakukan hal yang paling buruk. Karena anak-anak melihat lingkungannya. Dia belajar dari kita, orang dewasa. Jadi sangatlah bijaksana jika kita tidak menyalahkan mereka atas apa yang terjadi pada mereka secara sepihak. Sangatlah bijaksana apabila kita mau berkontemplasi dan intropeski mengenai apa yang telah kita perbuat, sehingga anak-anak melakukan kesalahan. Jangan rampas hak tumbuh kembang mereka dengan hukuman-hukuman yang fatal.

Karena kebaikan ada diatas nama baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s