Akui Saja, Kita Ini Sapiens Tidak Murni

A4HHo5R-640x537

Kita manusia selalu mencari musuh yang sebanding. Yang berwujud, realistis, dan bisa dikalahkan. Kemungkinan besar ketika kita melihat orang lain dengan kemampuan yang melebihi kita, kita akan lebih senang jika orang tersebut menjadi guru kita, jika kita melihat orang lain dengan kemampuan yang berada dibawah kita, kita ingin mengajari mereka. Namun jika kita melihat kemampuan orang sama dengan kita, namun mereka tidak bisa bekerja sama, kita menjadikan orang itu musuh kita. Tentu saja ‘musuh’ tidak berarti tanpa adanya keterbatasan. Dan yang terbatas di kehidupan kita ini, hampir semuanya.

Namun yang ingin kubahas kali ini adalah keterbatasan yang dalam fungsinya membawa keuntungan dan kerugian. Jika boleh aku mengutarakan kesimpulan sendiri, dan aku yakin, akan banyak orang yang setuju, sesuatu yang paling tidak terbatas dimuka bumi ini adalah akal manusia.

Jika manusia pada umumnya bisa bertahan hidup selama satu abad, namun akal manusia bisa mengetahui segala hal melebihi satu abad. Manusia mengetahui apa yang terjadi jutaan tahun silam bahkan teori penciptaan, manusia juga memprediksi kiamat, bencana alam, evolusi, peperangan, turunnya sang penyelamat, bahkan manusia tahu saat Tuhan murka, atau saat Tuhan menguji kita. Mungkin pada dasarnya ini hal yang biasa saja, karena kita tidak menyadari betapa luar biasanya isi kepala kita dibandingkan dengan hewan. Aku sendiri bisa menulis seperti ini ketika aku memerhatikan kucing ku, dan bertanya-tanya apa gerangan yang ada di isi kepalanya.

Ada dua teori yang dikemukakan, yang setelah ditelaah, menjadi penyebab perbedaan ras di muka bumi. Mari kita sepakati bahwasannya Nabi Adam dan Hawa adalah manusia pertama di muka bumi. Namun bentuk fisik dan pemikiran mereka seperti apa, kita tidak pernah tahu. Apakah Adam adalah sapiens murni berasal dari Lembah Neandarthal atau Lembah Solo, kita tidak pernah tahu.

Kedua teori tersebut, seperti yang ditulis di tirto.id dengan judul “Bagaimana Para Leluhur Kita Menguasai Dunia”, adalah teori kawin silang dan teori penggusuran.

Teori kawin silang memercayai bahwa saat ini tidak ada sapiens murni. Karena sapiens kawin-mawin dengan dengan homo-homo yang lain misalnya Homo Erectus, Homo Soloensis, dll. Sedangkan teori penggusuran memercayai bahwa semua Homo, selain Homo Sapiens, tidak bertahan hidup alias punah.

Tentu dengan melihat perbedaan ras saat ini (Ras Eropa, Asia, Africa), para ilmuwan lebih menyetujui teori kawin silang lah yang berlaku. Dan perbedaan ras ini yang menjadi dinamit perpecahan, pelanggeng penyerangan antara keturunan Homo Sapiens yang tidak murni.

Mengenai keturunan Sapiens tidak murni yang mampu menguasai belahan bumi, tentu ada penyebabnya : akal.  Kita sudah tidak ragu lagi mendeklarasikan akal kita sebagai sesuatu yang super duper, lebih dari mahluk ciptaan tuhan yang lain. Namun Bahasa atau kemampuan kita berkomunikasi dengan sesama Sapiens tidak murni menjadi faktor utama penguasaan manusia atas alam.

Manusia (Sapiens tidak murni) dengan bahasanya mampu menjadi mahluk pengkhayal. Lebih ajib lagi, khayalan ini bisa di pahami oleh manusia yang lain, menjadi sebuah khayalan kolektif. Oleh karena itu, mereka (termasuk saya), bisa bekerja sama. Saat pengkhayal pertama berkata bahwa Bulan adalah dewi, lalu dia menceritakan kepada yang lain, maka saat itu pulalah kelompok mereka percaya bahwa bulan adalah dewi. Atau saat satu pegkhayal memaknai buaya adalah pemangsa, pengkhayal lain bisa berkata bahwa buaya merupakan roh pelindung kelompok mereka. Dan dengan mudah, mereka percaya. Disini, apa yang mereka ‘khayalkan’, mereka percayai, dan menjadi sebuah keyakinan.

Perbedaan ras dan keyakinan akan segala hal menjadi pelanggeng perbedaan pemikiran, perbedaan budaya. Perbedaan ras mungkin tidak akan menjadi senjata utama penyerangan dan peperangan. Kuncinya adalah perbedaan pikiran dan perbedaan budaya sehingga tidak terjalinnya kerjasama yang baik.

Selama ini kita selalu meyakinkan diri kita bahwa perbedaan bukan masalah besar. Ada ‘toleransi’ yang menjadi kata tandingan, yang bagiku merupakan sebuah kata yang congkak. Atas nama toleransi, kita memendam perbedaan yang amat kentara. Toleransi pelipur lara realitas yang beda. Lebih parah lagi saat perbedaan mengelompokan umat manusia kedalam skala minoritas dan mayoritas. Artinya kelompok besar dan kelompok kecil, yang memperebutkan kekuasaan atas alam. Tidak bisakah kita menghilangkan kata ‘berbeda’, sehingga kita tidak bermusuh. Tak bisa kah kita hanya mengakui persamaan, bahwasannya kita adalah bukan Homo Sapiens murni? Dan kita memiliki peran masing-masing untuk menjaga bumi dan atas nama kemanusiaan saja?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s