Perjalanan Pikiran Pagi, Segamang Siang, Melampaui Malam

mexico_and_rest_411Bersediakah kau ceritakan padaku tentang pagi yang membangunkanmu setiap hari? Maksudku, perasaanmu. Tentang apa saja yang kau pikirkan. Apakah otak mu langsung bekerja saat kau membuka mata, atau fisikmu yang menjalankan kebiasaan-kebiasaan mu saat pagi tiba? Aku sendiri sulit menerka, apakah otak atau fisik yang bekerja saat pertama aku membuka mata. Namun, aku memiliki gambaran, dan aku mencoba menjelaskan.

Aku mudah diingatkan, tentang pagi yang kata petuah adalah anugrah. Bukti bahwa kita masih diberi kesempatan, untuk melakukan hal-hal yang lebih baik lagi. Katanya pagi adalah keajaiban. Namun sulit bagiku mengklasifikasikan keajaiban. Kehidupanku, kurasa juga adalah keajaiban. Lalu anak kucing yang menjilati wajahku, juga bukan pengecualian dari keajaiban. Apa yang tidak ajaib sebenarnya?

Saat ku turunkan kaki dari peti mati terbuka, dan melihat benda-benda yang mengingatkanku akan makna, lalu saat warna-warna seperti kata-kata menyimpan dan mengungkap karakter seolah-olah sebuah personifikasi yang tidak sembunyi-sembunyi namun sulit untuk di ketahui oleh orang-orang yang tidak tahu…

Saat pemaknaan akan sesuatu dimulai, saat kehidupan dan penghidupan merangkul kita untuk terus berjalan. Tak peduli bahwa dimalam-malam yang awam, kita telah mati, untuk kemudian hidup lagi…

Dan entah apakah pikiran kita masih menyimpan memori yang sama, atau menyimpan teori yang asli.

(Maafkan aku, yang lebih gemar menceritakan perasaanku melalui puisi cerita, yang bisa jadi kata-katanya lupa dari mana dan untuk siapa)

Namun seperti itulah pagi ku, kurasa. Digandeng oleh ketidakyakinan apakah aku mampu meyakinkan mereka bahwa aku ada, dalam genap kesempurnaan denegasikan oleh ketidaksempurnaan yang ganjil. Setiap pagi, aku mempertanyakan, apakah orang-orang yang kusayangi itu ada untuk menyayangiku kembali, ataukah rasa sayang itu palsu, dijaga oleh kata ‘seharusnya’ dan ‘sewajarnya’.

Selanjutnya kuteguk air dalam gelas, dan anak kucing mengikutiku, aku benar mengenai bahwa dia lapar, karena akupun merasakan hal yang sama. Ditempatku, dia tidak mampu menyiapkan sarapan pagi, oleh karena itu aku yang melakukannya, sebelum aku menyiapkan untuk perutku sendiri.

Tidak ada kepastian itu dipagi hari. Tidak sampai aku membuka jendela kepala dan jendela kognisi, membaca kata-kata berupa informasi ditemani secangkir kopi yang tak perlu ku beri gula, karena aku yakin keyakinanku sudah mampu memaniskan getir hitamnya.

Didepan jendela itu, kegiatan-kegiatan memberi sinyal, melambaikan bendera sebagai isyarat bahwa tujuan menanti dan harus kugapai dengan energi. Oleh sebab itu aku segera makan. Mengisi perut dan mengisi otak, kulakukan secara bersamaan, untuk mengefektifkan waktu yang selalu terburu-buru.

Dan dari waktu yang terburu-buru itu, selalu timbul ketakutan, mungkin, hanya mungkin, aku tidak akan mampu mengejar. Ada istilah waktu habis. Dan karenanya bagiku, berbasa-basi cenderung menjadi najis. Dan dampak terparahnya, yang tidak bisa kutanggulangi adalah menajiskan diri.

18816556344_920af2cb25_b

Menuju siang, aku seperti ditimang-timang oleh harapan. Aku terjungkal, melompat, tersungkur, bangkit, terjerembab atas nama efektifitas waktu dan tujuan yang menanti tetapi tak pernah membiarkan tangan besi ku menyentuhnya walau hanya di ujung jemari.

Mereka (tujuan-tujuan) itu pada kenyataannya semakin tinggi dan semakin tinggi. Membuatku merasa bersalah jika aku lelah. Namun entah darimana asalnya pesan itu bersuara :“lelah adalah manusiawi”, katanya. Bagiku kata-kata itu adalah wujud dari persuasi, yang selalu berhasil menepiskan rasa bersalah saat aku lelah.

Benar kata-kata dalam puisi, katanya kita ingin jadi banyak, namun kita tidak cukup. Artinya kesenjangan antara kecukupan dan kebanyakan, yang membuat kita selalu meronta, memohon kepada kemustahilan. Seperti memohon genap kesempurnaan pada ketidaksempurnaan yang ganjil.

sunrise-images-4

Sore hari, terkadang langit menjadi emas. Rasa-rasanya langit itu telah bercakap pada kita, bahwa waktu akan habis dan energi hampir sepenuhnya kandas. Namun cakap tersebut, bersama kemilau emas, menyatakan sesuatu yang bukan seperti paku terinjak kaki tanpa alas. Tidak membuat kita kesal dan menyesal, tetapi berterimakasih.

5b3fc70aca51ebadead6d4d441be190c

Menjelang malam, langit menjadi biru semu kelabu. Nampaknya menyimpan desah-desah amarah kecil kita yang tergambar oleh lampu rem kendaraan yang tanpa pilihan, mengantri sepanjang ruas jalan. Biru semu kelabu langit itu sudah tak dihiraukan. Cakap sore hari yang di terimakasihi pun tak mampu menjadi peringatan bahwa kita harus sabar menanti. Menunggu giliran agar ban-ban kendaraan kita menggelinding menuju garasi.

Kebanyakan dari kita, mungkin lupa. Namun aku tidak, bahwa benda-benda yang kuingat pagi tadi itu bermakna tak lagi sama. Karena pagi adalah harapan baru, sedangkan malam adalah penantian, dimana aku mempertanyakan, akankah petiku terbuka saat pagi tiba, atau tertutup dan terkunci, membuat malam-malam awam abadi, melenyapkan ketidaksempurnaan yang ganjil itu, meniadakan batas waktu itu, agar aku berhenti menajiskan diri?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s