Mungkin Akal Manusia lah yang Mengancam Keberlangsungan Hidup Manusia (Punah)

artificial-intelligence-companiesBersama angin aku termenung, memikirkan kata-kata yang tertulis pada layar putih seperti kertas. Ada kata-kata tertuang diatasnya. Tulisan digital. Tak ada tinta. Hanya goresan kombinasi warna pada layar computer yang luar biasa berguna. Cerdas dalam memvisualisasikan sesuatu, agar bisa dipahami oleh manusia.

Manusia sendiri hanya bisa mengutarakan sesuatu dengan suara. Kata-kata yang di ucapkan, menjadi gelombang audio yang frekuensinya sejajar dan memungkinkan untuk didengar sesamanya. Apabila kita ingin mengutarakannya dengan cara lain, maka kita akan mengambil kertas dan alat tulis. Menggambarkannya, menjadi visual, yang juga bisa dipahami. Ini yang tidak adil.

Karena computer tidak memerlukan alat tulis. Dan dia bersuara seperti kita, dan dengan cerdasnya menunjukan sebuah gambaran untuk kita, tanpa harus menggambar. Dengan ajaib, jika kita mengaktifkan pengenal suara pada computer (sejenis siri bagi pengguna Iphone), kita hanya perlu meminta sebuah gambar, dan layar computer akan menunjukannya. Aku merasa computer, lebih pintar dari pada aku.

Terdapat perspektif yang dilematis, apabila aku memikirkan cerdasnya sistem-sistem yang dibuat oleh manusia. Seperti biasa, dilemanya antara merasa terbantu atau terancam. Jika manusia bisa menciptakan mesin yang lebih pintar dari manusia, akankah manusia pencipta itu masih memerlukan manusia? Aku manusia. Dan sedikitpun tidak memiliki kapabilitas seperti si pencipta mesin-mesin tersebut.

Dari pemikiran ini, terkadang aku menjadi khawatir berlebihan. Mungkinkah hanya aku yang menyimpan kehawatiran yang absurd ini? Apakah yang akan terjadi jika peranku diambil alih oleh mesin yang tidak berperasaan itu? Apakah akalku tidak lebih baik dari akal mesin yang disebut artificial intelligence itu?

Mereka, menurut para ahli menjadi semakin baik setiap hari. Dan manusia memercayai mereka lebih baik ketimbang memercayai manusia. Dimasukkannya data-data oleh manusia pencipta artificial intelligence tersebut. Entah berupa simbol atau angka-angka. Rumus-rumus silogisme. Logika dalam pengambilan keputusan. Analisa pola kehidupan manusia semisal : Jika banyak makan = gemuk. Atau kemampuan mesin untuk membaca dan menghitung jumlah kalori atau lemak jenuh dalam tubuh kita melalui scan retina mata. Sungguh ajaib. Sayangnya aku bukan salah satu si pencipta artificial intelligence ini.

Aku hanyalah mahasiswa sastra, dan adalah background pendidikanku yang kurasa membuatku sangat hawatir mengenai perkembangan artificial intelligence ini. Karena aku yakin jika perkembangannya semakin sempurna, maka kepunahan manusia tinggal beberapa langkah lagi saja.

Ada teori literasi yang aku lupa dimana, namun ini mengemukakan perseteruan abadi antara kaum naturalis dan romantisis (romantisis disini bukan penulis kisah berbau-bau kisah asmara atau keromantisan cinta).

Dalam dunia romantisis, kalau aku tidak salah, manusia menjadi titik tunggal segala bentuk ekspresi, dan manusia beranggapan menguasai alam. Manusia mengekspresikan imajinasinya, memperkuat perspektif pikirannya melalui segala hal yang mungkin dipikirkan. UFO, fairy tale, monster, planet lain, alien. Genre-genre scifi pada kenyataannya merupakan perkembangan dari genre romantisis di jaman klasik.

Sedangkan naturalis, mereka lebih percaya bahwa alam lah yang menguasai manusia. Manusia akan kalah oleh alam. Oleh karena itu, plot dari cerita naturalist cenderung memetakan kehidupan manusia pada umumnya, dan memiliki akhiran cerita yang menohok kerongkongan kita. Membuat kita berpikir kembali, teringat dosa-dosa, dan mungkin teringat Tuhan, bahkan kematian.

Perseteruan sesungguhnya antara kaum romantisis dan naturalis adalah, kaum naturalis berpendapat bahwa imajinasi liar kaum romantisis, yang menciptakan monster-monster, sistem yang lebih pandai dari manusia, akan menuntut keberwujudannya dalam dunia nyata. Dengan kata-lain, saat kaum romantisis menciptakan robot dalam cerita, manusia yang membacanya akan terinspirasi, dan termotivasi untuk menciptakan robot tersebut. Sebaliknya, kaum romantisis berpendapat bahwa kaum naturalis adalah kaum yang penakut, yang kalah dan tunduk oleh alam. Terlalu sempit, karena hanya bercerita soal lika-liku hidup manusia saja.

Namun pada zaman ini, jarang sekali cerita bergenre tunggal. Dan teori-teori literasi romantisis dan naturalis mungkin sudah tidak relevan. Tapi, apa yang di katakana kaum naturalis mengenai cerita kaum romantisis, mungkin benar adanya. Melalui imajinasi manusia yang tertuang dalam kata-kata, membentuk cerita, manusia menciptakan sesuatu yang secara tidak disengaja, mengancam kaumnya.

Aku sering nonton film yang didalamnya bercerita tentang artificial intelligence, salah satu film tersebut  berjudul “Artificial Intelligence”. Film yang mengharukan. Robot berwujud anak kecil, yang ingin disayangi oleh kedua orang tua manusianya. Robot tersebut memiliki harapan, cinta, keinginan disayangi, hanya saja minum oli dan tidak makan makanan manusia. Menyeramkan!

Namun cerita ini berhasil menyentuh rasa emosionalku, secara ceroboh, aku memiliki pikiran  bahwa robot juga manusia. Sungguh naif dan absurd. Melihat kemampuannya yang luar biasa. Bisa membuat kopi dengan takaran yang pas dan sama setiap hari, karena robot punya rumus hitung-hitungan yang tidak manusiawi. Robot tidak pernah keliru mengenali seseorang. Robot bisa menciptakan kata-kata yang indah, seindah seorang kekasih yang sedang jatuh hati pada kita. Rumus itu ada dalam dikepalanya. Mereka tak perlu motivasi karena mereka merekam kebiasaan kita menjadi suatu pola yang mereka pahami. Sudah tujuan mereka diciptakan untuk menyenangkan hati si empunya.

Lalu dalam beberapa langkah kedepan, mungkin robot-robot ini yang akan menggerakkan bidang industri. Produksi segala jenis kebutuhan manusia. Dan tentu si orang kaya lebih senang mempekerjakan robot. Robot tidak perlu THR atau bayaran lembur. Faktanya mereka bisa bekerja selama 24 jam tanpa merasa bosan. Kecuali si pencipta bikin rumus bosan di kepalanya yang dipenuhi kabel atau cairan logam.

Namun ada satu pertanyaan yang sungguh bikin penasaran mengenai artificial intelligence dan robot-robot ini. Apakah mereka berpikir? Sekalipun rumus-rumus kemanusiaan ditanamkan di kepala mereka yang hampa, apakah mereka berpikir saat memutuskan tindakan? Atau apakah pengambilan keputusan tidak terjadi sama sekali dalam sistem mereka? Karena jika mereka berpikir, mungkin mereka adalah manusia sama seperti kita, mengingat Descartes berkata, “I Think Therefore I Am”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s