Kisah Saya di Penjara (Saat Kenakalan di Anggap Tindakan Kriminal)

Cerita ini ditulis ulang berdasarkan penuturan seorang anak yang menjalani masa hukuman di LAPAS ANAK Bandung. Adapun nama yang tertulis di palsukan untuk menjaga privasi.

1946053-ilustrasi-penyiksaan-kekerasan-780x390

Aku Alvan. Saat ini aku berusia 16 tahun. Sudah beberapa bulan ini aku menjalani kehidupan tidak normal, yaitu hidup di penjara anak, meskipun kehidupan ku sebelum disini mungkin tidak bisa dibilang normal juga, namun aku tetap berharap agar bisa keluar dari tembok tinggi penjara ini.

Vonis di persidangan, setelah Jaksa dan Penuntut Umum  serta pengacara melontarkan fakta-fakta yang harus ku akui, sebelum hakim mengetuk palu, aku masih mampu  mengingatnya dengan jelas, yaitu satu tahun penjara. Aku masih ingat dengan jelas suasana persidangan saat itu. Angin kering yang menohok tenggorokan, seolah-olah menjadi pisau yang menusuki tubuh ku, terlebih saat aku menyaksikan ibu ku yang  gemetar dan menangis sesenggukan.

Seandainya kata penyesalan dapat merubah keadaan, aku akan menyebutkan kata penyesalan itu beribu-ribu kali. Namun, hukuman tetap hukuman. Hukuman harus ditegakkan demi keadilan, katanya. Agar para aparat tidak dianggap lalai dalam menjaga keamanan, atau agar para penuntut merasa puas.

Sudah tak terasa lagi kesakitan yang dibuat oleh Bapak berseragam itu, meskipun tulang rusuk ini patah karena dipukuli, dan beberapa permukaan kulit ku ini menjadi asbak tempat mereka mematikan rokok-rokok yang mereka hisap, tetap saja, yang membuat sakit bukan kepalang hingga aku tak mampu menahan air mata adalah ibu ku, yang sudah aku kecewakan.

Setelah persidangan berakhir, akhirnya aku menjadi penghuni penjara. Nama halusnya adalah Lembaga Pembinaan Khusus Anak di Bandung. Kehidupan di sini sangat sulit. Susah sekali mendapatkan makanan yang layak, berkomunikasi dengan keluarga, bahkan untuk membersihkan diri saja kami harus memakai deterjen karena sabun memang tidak tersedia. Hasilnya adalah penyakit kulit yang tak sembuh-sembuh.

Beruntung ibu ku yang pengasih sering mengunjungi dan membawakan peralatan yang aku butuhkan. Namun banyak teman-teman lain tidak beruntung seperti aku. Kebanyakan dari mereka tidak pernah dikunjungi oleh keluarga. Namun apa boleh buat, namanya juga dihukum. Jangankan meminta sebuah kelayakan. Bentuk keluhan yang keluar saja terkadang membuat aku dan teman-teman harus merasakan hukuman yang lain.

Terkadang, ingatan ku membawa ku ke masa-masa saat aku dituduh melakukan tindakan kriminal: pemerkosaan. Aku ini seorang supir angkot. Mungkin wajar aku dituduh memerkosa, karena profesiku adalah profesi kasar. Aku terpaksa menjadi supir angkot karena keadaan ekonomi keluargaku yang carut marut.

Seperti remaja pada umumnya, aku juga punya pacar. Terkadang dia menemaniku narik angkot. Tapi suatu hari, saat dia tidak menemaniku, aku mendapat sms dari dia. Sepertinya dia sedang ada masalah keluarga. Akhirnya aku menghabiskan waktu dengannya hingga malam tiba.

Aku sendiri merasa tidak nyaman saat dia menolak pulang. Namun aku tidak bisa memaksa, dan harus kuakui, keberadaannya dengan ku membuat aku sangat senang. Hingga kami melewati batas kewajaran malam itu. Esok paginya dengan perasaan bersalah, ku antar dia sampai depan gerbang rumahnya. Tentu saja aku tidak berani menemui kedua orang tuanya.

Perasaan bersalahku tak kunjung hilang. Sampai besoknya orang tua pacarku meminta bertemu di terminal tempat aku mangkal. Aku takut bukan main, namun aku tidak berpikir untuk kabur. Ku temui mereka diterminal seperti yang mereka minta.

Setibanya disana, bukan Cuma mereka yang menunggu. Tapi ada Bapak-bapak berseragam dari pihak kepolisian. Belum juga aku menyapa, orangtua lelaki pacarku itu menamparku keras sekali. Setelah itu, bapak-bapak kepolisian meringkus, memborgolku, dan membawaku ke kantor polisi. Disanalah penyiksaan terjadi. Pukulan dan tendangan mendarat diperut, mematahkan tulang rusuk, agar aku mengakui bahwa aku memerkosa pacarku.

Karena tidak sadarkan diri, akhirnya aku dilarikan ke rumah sakit. Setelah siuman, aku mendapati ibuku menangis keras sekali, menyaksikan wajahku yang hancur dan badanku yang dipenuhi lebam dan luka bakar karena sengatan api rokok. Persidangan demi persidangan ku lalui tanpa komentar untuk membela diri. Melihat ibuku yang sedih, dan sakit akibat rusuk patah membuatku tak bisa berkata apa-apa. Hingga akhirnya aku berakhir di penjara anak.

Hari-hari ku di penjara lebih banyak diisi oleh kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh kakak-kakak dari luar. Kegiatan-kegiatan itu sedikit banyak memberikan kesibukan. Bisa dibayangkan kalau tidak ada kegiatan dari luar, pasti hari-hari ku diisi dengan membuang-buang waktu. Dan itu pasti sangat membosankan.

Beginilah kehidupan ku di penjara. Aku berharap siapapun bisa belajar dari sini, dan aku mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga kelak saat aku keluar, orangtua ku, terutama ibu, bisa memaafkan dan menerima ku kembali, dan memberi ku kesempatan untuk jadi seseorang yang lebih baik.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s