Di Penjara Anak, Aku Bebas

kebebasan-303eqw00al8jerrme0ketc

Di depan tembok bangunan setinggi kurang lebih 10 meter berwarna biru, aku berdiri. Bangunan tersebut, saat itu hampir satu warna dengan langit. Tak ada gumpalan awan putih maupun kelabu. Namun bangunan tinggi berwarna biru itu, entah mengapa lebih menyerupai abu-abu, entah di mata atau di kepalaku. Abu-abu karena bangunan tersebut menyimpan rahasia yang juga abu-abu. Bangunan tersebut menegakkan keadilan yang bagiku, juga abu-abu.

Sebentar lagi aku akan melihat jeruji, yang tak lagi dibuat dari besi, melainkan dari udara dan harapan-harapan putus asa, pikirku. Hari itu adalah pertama kalinya aku melangkahkan kaki ke penjara anak.

Pintu kaca anti peluru terbuka. Seseorang berseragam berdiri di dalamnya. Seragam biru, membuat wajah seram orang berseragam itu terlihat lucu. Biru cerah jelas bukan warna yang menyenangkan untuk dilihat bersama kulit yang sangat coklat. Wajah orang itu sepeti sulit tersenyum, namun seragamnya setidaknya menciptakan senyuman di bibirku, sebelum aku tahu, setiap menit berikutnya di dalam penjara, mungkin memang lebih baik tidak tersenyum.

Orang itu seorang pria. Menggeledah ranselku yang ukurannya sedikit lebih besar dari punggung ku. Meminta kartu identitas dan menyuruh ku mengenakan tanda pengenal khusus penjara. Ketegasan pria ini menghapuskan senyum lucu. Jelas baju biru bukan lelucon. Tapi lebih dalam dari itu, biru yang menjadi symbol penjara, sepertinya tidak cocok. Menjadi ironi. Satu warna yang dipaksakan, mencerminkan suatu keadaan buruk yang hadir karena keterpaksaan.

“Dilarang mengeluarkan handphone dalam keadaan apapun. Sebaiknya Anda menyimpan handphone Anda di loker”. Tegas si pria yang menggeledah.

“Baik”, kataku, segera mengeluarkan handphone.

Penggeledahan selesai. Aku lanjut berjalan menuju kawasan hukuman para kriminal. Sekalipun aku tidak dianjurkan menyebut para tersangka ini ‘kriminal’, namun memang itulah yang umum. Selangkah demi selangkah kaki mengayun. Aku meneliti setiap tembok yang dicat dengan warna-warna cerah. Oranye, kuning, biru. Setelah tiga puluh meter berjalan, kulihat graffiti di tembok yang tinggi, graffiti doraemon, yang wajahnya sebenarnya lebih mirip drakula: memiliki mata setan dan taring. Di dinding-dinding kawat, tergantung tanaman hidroponik. Entah apa nama tanamannya, namun harus ku bilang, bahwa satu-satunya yang membuat ku merasa aman disini adalah tanaman-tanaman yang menggantung itu. Terlihat sehat, terawat. Mengimplikasikan seseorang selama ini telah merawatnya dengan baik. Pertanyaanya apakah perawat tersebut adalah salah seorang dari kriminal, atau salah seorang dari petugas. Bagiku, seseorang yang merawat tanaman adalah seseorang yang tentu memiliki rasa tanggung jawab.

Aku melewati pintu pembatas terakhir yang terbuat dari besi, menjadi pembatas antara area petugas dan area tahanan. Dibalik celah-celah besi, aku melihat tanah yang lapang dilapisi plester. Kulihat orang-orang terbalut kaos kuning yang dipunggungnya terdapat tulisan yang tidak terbaca, karena fungsi penglihatanku sudah mulai terganggu, dan aku tidak menggunakan lensa kontak maupun kaca mata. orang-orang itu berpotongan rambut seperti biksu, kurus, dan menyedihkan. Saat aku melangkahkan kaki dari pembatas, mereka menatapku, dan sejenak menghentikan aktifitas mereka. Suasana menjadi sedikit mencekam, dan aku merasa terancam. Merasa sangat tidak nyaman, aku sama sekali tidak menatap kearah mereka. Aku terus berjalan, menuju kelas, tempat dimana aku akan mengajar.

Ini akan jadi hari yang menyenangkan. Ungkapku terhadap diriku sendiri. Hal itu selalu aku lakukan saat aku berkeyakinan bahwa hari ini akan sangat tidak menyenangkan. Aku menjadi tidak bisa diam, akhirnya aku berjalan mondar-mandir di depan kelas seperti setrikaan, lalu mendadak lupa apa yang akan ku ajarkan. Melihat mereka yang menyedihkan, rasanya semangat dan pandangan positif seperti apapun akan sulit diterima.

Tak lama kemudian beberapa orang masuk. Orang yang paling pertama memasuki kelas tak menghiraukanku yang sedang tidak nyaman, mondar-mandir. Mereka mengambil kusri dan duduk dengan tenang. Wajah bosan. Wajah menantang. Wajah penasaran. Wajah riang. Wajah sedih. Kutatap mereka satu persatu, mencoba memahami suasana hati yang tercermin dari wajah mereka yang berbeda warna antara satu dan yang lain.

Kurang lebih 15 orang didalam kelas. Bibirku gemetar hendak mengucap salam saat dua anak datang, menyapa, masuk dan menyalami aku. Dua anak ini wajahnya sumringah. Dan saling melirik satu sama lain, seperti merencanakan atau tenngah mempermainkan sesuatu. Karena aku terlalu gugup untuk tahu lebih jauh, akhirnya aku membuka kelas yang berdurasi 2 jam itu. Dan selama dua jam, aku tidak mengajar apa-apa, melainkan merekalah yang mengajariku.

Kelas berakhir. Aku mempertanyakan kredibilitasku sebagai pengajar. Risau. Sampai dua anak yang terlihat sumringah tadi menghampiri ku dan menyerahkan sesuatu miliku : arloji. Melihat arlojiku ditangan mereka, aku langsung melihat pergelangan tanganku : kosong. Kedua anak itu tertawa-tawa dan meminta maaf.

“Maaf yah, kita cuma bercanda. Selamat datang di Lapas Anak, Teteh Rena”.

Rasanya mereka sangat bersahabat dengan cara mereka yang aneh. Dan aku sepertinya harus menjadi ‘aneh’ agar aku bisa membantu mereka belajar. Maka keanehan-keanehan kecil dimulai, hingga aku merasa berharga di tengah,  para kriminal.

Bersambung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s