semeru.jpg

Di ketinggian, sekitar 400 meter menuju 3.676 meter diatas permukaan laut, aku menengadah kelangit, mencari bulan yang kuharap bisa dijadikan penghiburan. Kudapati bulan tersebut berwarna kuning terang, hampir menjingga, bulat sempurna di dini hari tanggal 13 Juli 2016. Supaya tidak tertidur karena menikmati bulan di atas tingkat kemiringan yang super miring, aku mengalihkan pandanganku ke bawah sana. Kulihat manusia berbaris, berbondong-bondong berdatangan. Bukan. Sebenarnya headlamp mereka yang menyala, berjejer rapi seperti kereta. Derap langkah kaki manusia-manusia itu terdengar seperti derap langkah kaki ku sebelum aku memutuskan untuk beristirahat. Derap langkah kaki yang kepayahan, kelelahan, namun dipaksakan melangkah, menjejak pasir kering yang seolah tidak ada habisnya.

Aku tidak mendengar gurauan atau pembicaraan, bahkan bisikan. Yang kudengar hanya tarikan dan hembusan nafas yang memburu, tersalip oleh nafasku sendiri, sesekali. Aku masih terlentang di pinggiran jalur pendakian pasir, dengan kemiringan yang sulit untuk didaki. Aku menekuk lututku sambil terlentang, sengaja, agar interlock sepatu gunungku mampu mengunci posisi ku di medan yang super miring, ku lipat tanganku diatas dada. Tak ada siapapun yang menyapa atau bertanya. Padahal ada hampir seratus manusia melewatiku, dan aku merasakan pandangan mereka sesekali, kepada ku yang entah seperti apa rupanya.

Setelah 2 menit aku terlentang, aku belum juga ingin melanjutkan pendakian. Udara dingin menembus jaket polar pink bermerk Northface yang ku percaya bisa menangkal dingin. Kepercayaan bodoh. Ketebalan polarnya bisa saja berhasil menangkal dingin. Namun kedinginan yang berasal dari hati ku, tidak bisa ditangkal. Tiba-tiba Aku gemetar. Karena aku sendirian di tengah ramainya derap kaki manusia-manusia pecandu ketinggian. Tidak dihiraukan, tidak terlihat, hanya seseorang yang sedang beristirahat, di pinggiran jalur pasir yang miring.

Tubuhku semakin gemetar. Mengapa aku bisa sendirian seperti ini? Dimana team ku? Aku butuh air. Air liurku sudah mengental karena abu vulkanik halus yang tersesap bersama udara dingin melalui rongga hidung. Tenggorokanku sudah sakit karena kelembapannya hilang, dan aku semakin sesak. Aku bangkit berdiri, namun terjatuh karena gravitasi rasanya berpindah ke kepala, bukan di telapak kaki. Aku terperosok, merosot dipasir kearah jurang. Panik. Aku mencakar-cakar tanah pasir yang miring, berharap menemukan gumpalan pasir yang mengeras menjadi batu, agar bisa kujadikan tambatan berat badanku yang akan terperosok ke jurang disamping jalur pendakian.

Beruntung jari-jari dan otot tanganku terlatih menahan berat badan. Aku ingin berteriak meminta pertolongan, namun dadaku terlalu sesak dan tenggorokanku terlalu kering. Aku masih mendengar derap kaki yang sibuk dan nafas tersengal kumpulan manusia yang berderet itu. Mereka menyamakan ritme langkah mereka. Lambat laun mereka menjadi tidak seperti manusia, melainkan seperti sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak berjiwa. Sesuatu yang hanya mampu berpikir keras, terus berjalan demi sebuah tujuan. Apakah aku seperti itu?

“Help me, help!”

Orang asing yang mendapatiku merosot di samping jalur pendakian memanggil teamnya. Wajahnya pucat, dengan nafas tersengal yang terdengar lebih keras. Peluhnya membasahi tanganku yang mencengkram gumpalan pasir membatu. Saat itu kedua tangannya sudah meraih satu tanganku, dan temannya yang lain meraih satu tanganku yang lain, lalu mereka menarikku bersamaan. Upaya mereka menyelamatkanku membuat derapan langkah kaki yang teratur itu menjadi tak karuan. Sengalan nafas pertanda lelah mendadak menjadi bisikan dan gumaman. Tiba-tiba aku teringat barisan semut yang jadi tidak beraturan saat jalur semut tersebut kuhalangi dengan potongan ranting kecil. Aku merasa aku adalah ranting kecil itu.

Orang asing itu memberi ku air. Aku masih sadar untuk tidak minum kesetanan. Ekspedisi menuju puncak masih jauh. Mereka akan membutuhkan banyak air. Lagi pula terlalu banyak minum akan membuat perutku sakit saat berjalan. Aku hanya minum untuk melembapkan tenggorokan, mendinginkan mulut yang sudah seperti mengecap magnesium yang biasa ku gunakan untuk mengesatkan tangan di arena panjat tebing.

“Where is your team, Miss?” Tanya orang asing yang menemukanku pertama kali.

“I don’t know. Either I climb too fast or too slow” jawabku. Dia membantuku berdiri di tingkat kemiringan yang sulit. Aku mulai mendapati gravitasi di telapak kaki.

“Lets move!” teriak orang asing lain yang berada paling jauh denganku.

“You have to climb on the track. Don’t resting alone. You can join us, keep climbing in our line” kata nya lagi.

Ya, tentu saja. Memang begitulah SOP nya, aku paham betul. Dilarang beristirahat sendirian. Apa lagi di pinggir jurang pasir. Aku terlalu buru-buru saat bangkit dari istirahat, sehingga keseimbangan hilang, ditambah lagi aku gemetar karena kesendirian yang membuatku panik. Hal seperti ini biasa terjadi dalam pendakian. Hanya saja, medan kali ini lebih ekstrim.

Aku mengiyakan. Aku masuk kebarisan mereka, berada tepat dibelakang orang asing yang menemukanku hampir terperosok ke jurang pasir. Mereka bertubuh besar-besar. Dari aksen berbahasa Inggrisnya, aku mengidentifikasi bahwa mereka bukan English native speaker. Mungkin Perancis atau Italia. Tepat dibelakang ku adalah seorang perempuan, mungkin berusia sekitar 30 an. Dia mengenakan wind breaker berwarna kuning. Dari model nya, itu pasti bermerk Northface, sama seperti yang aku miliki, namun milikku berwarna hijau. Mereka menggunakan buff sebagai masker. Aku menggunakan buff sebagai penutup kepala dan menutupi telinga, untuk penangkal dingin. Menggunakan buff sebagai masker membuatku kesulitan bernafas. Dan itu adalah penyebab aku sesak. Aku tidak memiliki masker sebagai penyaring udara yang masuk ke paru-paru.

Setelah 10 menit berjalan bersama orang asing yang lebih memerhatikan sekitar dari pada orang local, aku menjadi semakin terbelakang. Langkah mereka panjang-panjang, karena mereka bertubuh tinggi besar, di tambah mereka menggunakan dua track pole di tangan mereka, membuat mereka semakin cepat melangkah. Aku sengaja mundur, karena kusadari diriku menjadi penghambat pendakian mereka.

Lama kelamaan, aku jauh tertinggal lagi di belakang. Langit di puncak sana sudah mulai berwarna biru terang. Kupikir sekitar satu jam lagi akan berwarna keemasan, terkontaminasi oleh warna matahari terbit yang menakjubkan. Sambil terus berjalan, aku memijit tombol penerang di jam digital gunungku, yang ku kenakan di pergelangan tangan kanan. 03.37 am. Sudah hampir 4 jam aku mendaki. Aku kehilangan team ku tepat pada pukul 2 dini hari. Artinya sudah lebih satu jam aku mendaki di tengah keramaian orang yang tidak menghiraukan ku. Dalam kepala ku, aku berpikir, saat aku terpisah dengan team, mereka juga sebenarnya tidak menghiraukanku. Begitupun aku. Rasanya sangat malas menengok kebelakang, atau memeriksa kedepan untuk menemukan sosok seorang teman yang aku kenali. Angin yang terkontaminasi pasir dan abu vulkanik membuat siapapun yang mendaki lebih senang menatap pasir yang mereka jejaki, tidak terkecuali aku.

Kelelahan adalah hal yang biasa dialami pendaki amatir maupun pro. Yang tidak biasa adalah kandungan asam dalam debu yang tertiup angin, kemudian kita sesap. Tenggorokanku mulai panas. Aku tidak membawa persediaan air. Itu merupakan kesalahan. Memang saat memulai pendakian ke puncak, itu yang kuhawatirkan. Persediaan air kami tidak cukup. Sumber air di camp terakhir (kali mati) bernama sumber mani. Saat kami tiba di Kali Mati, matahari sudah hampir terbenam. Kami tidak mengisi ulang botol aqua kami ke sumber mani. Jauhnya sekitar satu kilo dari camping ground. Lagi pula di SOP tertulis dilarang mendatangi sumber mani lewat jam 5 sore, karena binatang buas biasanya nangkring disana untuk berburu babi hutan atau tupai. Sumber mani artinya sumber kehidupan. Sumber air bagi para pendaki, dan sumber makanan bagi binatang-binatang semacam macan kumbang dan black panther yang banyak di temukan di jalur pendakian Ranu Pane – Semeru. Namun aku tidak pernah berpikir akan mati kehausan. Tapi cukup kepayahan juga pada akhirnya.

Saat langit mulai berwarna keemasan, aku dan manusia yang lain hampir menjejak puncak. Jaket polar yang ku pakai semakin tidak berfungsi menahan dingin. Kadar abu vulkanik di udara semakin pekat. Bau asam sulfat yang tidak enak makin jelas tercium. Track nya semakin licin karena pasir yang mengeras, semakin curam. Aku dan manusia-manusia yang lain tak lagi berdiri tegak melainkan merangkak. Terpeleset sedikit berarti celaka dan akan mencelakakan orang lain yang berada di belakang, dibawah kita. Konsentrasi tidak boleh kabur. Harus dipastikan tangan mencengkram endapan pasir membatu yang tidak rapuh. Jika rapuh, maka kita akan terpeleset. Tiba-tiba aku memikirkan Bagas. Temanku yang aku ajak mendaki semeru tanpa pengalaman mendaki sebelumnya. Dia pasti tertinggal di belakang, dan saat itu, aku tidak mau peduli. Namun medan makin atas makin sulit. Dalam hati aku bertanya-tanya apa Bagas balik kanan atau maju jalan?, tentu medan seperti ini akan bikin dia gempor, stress, tertekan, mungkin ketakutan.

Terdengar suara ledakan saat aku merasa bersalah, memikirkan Bagas. Ledakan itu pasti berasal dari kawah Jonggring. Kudengar, jika asapnya berwarna kuning pekat atau hitam, berarti gas nya beracun. Aku menjadi semakin hawatir. Sekalipun aku tidak bisa melihat asap yang keluar. Semoga angin bertiup kearah yang berlawanan dengan jalur pendakian, agar kami selamat dari asap beracun yang beberapa puluh tahun silam tersesap oleh Hok Gie di medan yang juga sedang ku jejaki kali ini.

Suasana makin mencekam. Langit emas matahari terbit di gunung Semeru tidak bisa ku nikmati, karena aku masih berjuang merangkak di medan curam yang berbahaya. Ku dengar sayup-sayup teriakan orang-orang yang meneriakan kemenangan, kepuasan, tanda mereka berhasil menjejak maha meru, puncak tertinggi para dewa. Teriakan-teriakan kemenangan itu membuatku tidak sabar, hingga aku berteriak juga sesaat setelah mengambil nafas panjang, kemudian tertawa senang, merasa hampir berhasil melewati rintangan dan tantangan. Tawa itu seperti memberi ku energy untuk lebih berkonsentrasi, hingga aku menggapai puncak datar Mahameru, terbentang luas, dipenuhi kabut berbau asam sulfat.

Tinggi Sekali

Akhirnya aku berdiri tegak, menjejak permukaan batuan berpasir. Angin kencang ribut di telinga, seolah-olah menyelamatiku. Ku picingkan mata, melihat keadaan sekitar yang lengang, namun sarat akan suasana kemenangan yang sunyi, tidak tersuarakan. Seolah-olah siapapun tidak akan mampu berkata-kata, menghadapi keindahan sedemikian rupa. Aku mengalihkan pandangan ke arah timur, dimana matahari menyibakkan langit Mahameru yang biru muda, pancaran emas matahari seperti tangan para dewi, yang juga menyelamati. Ini seperti jalan menuju surga! Pekik ku dalam hati. Lutut ku jatuh seketika, aku menitikkan air mata.

Beberapa saat kemudian, di suasana yang penuh haru, dibawah langit keemasan itu, aku berdiri lagi. Badanku gemetar karena takjub yang tidak ada duanya. Suasana kemenangan itu lambat laun surut, menjadi kekuatan yang angkuh, tanpa menyurutkan keindahan bumi Mahameru. Gemetar lambat laun hilang menjadi kepercayaan diri yang menggelak tawa kecil untuk diriku sendiri. Aku tersenyum mendekati beberapa manusia yang ada di sana, menyalami mereka dan mengucapkan selamat. Beberapa manusia yang kuselamati memeluku erat sekali, pertanda mereka ingin berbagi kemenangan. Ku tangkap mata mereka yang berair itu, penuh binar kesenangan, kepuasan yang sama denganku.

Manusia-manusia lain berdatangan, berlarian, melompat-lompat kegirangan. Seperti itulah manusia merasa senang. Beberapa diantara mereka berteriak-teriak Allah hu Akbar, kemudian bersujud, mencium lapang Mahameru. Aku tersenyum menyaksikan rupa-rupa ekspresi yang tidak bisa ku komentari. Salah satu diantara manusia-manusia yang berdatangan itu adalah team ku dan Bagas yang berlari kearahku, kemudian mengangkat ku lumayan tinggi. Dia tertawa senang sekali, menghapuskan rasa bersalahku beberapa waktu yang telah lalu.

“Makasih ya, Rena” katanya sambil tersenyum, yang hanya bisa kubalas dengan senyum. Kemudian kami mendekati team untuk bersalaman dan berpelukan, kemudian berteriak menyuarakan kemenangan.

Advertisements

Mungkin Kemenangan Memang Dekat Dengan Kematian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s